Inna Lillahi wa inna ilaihi rajiun. Sesungguhnya kita ini adalah milik Allah dan hanya kep
Inna Lillahi wa inna ilaihi rajiun. Sesungguhnya kita ini adalah milik Allah dan hanya kepada Allah kita akan kembali.
Yogyakarta, 27 May 2006, di Parangtritis sedang direncanakan untuk diadakan acara pertunjukkan ketangkasan sepeda motor (motorcycle shows). Pagi itu cuaca di lokasi Pantai Parangtritis cukup cerah, penonton sudah banyak yg berdatangan. Hari itu, hari Sabtu dan merupakan waktu liburan sekolah, sehingga banyak yg ingin menyaksikan acara menarik ini.
Pagi itu, sekitar pukul 5.54, merupakan hari yang tidak disangka-sangka, hampir berbarengan dengan terbitnya sang surya, tiba-tiba seluruh rumah dan isinya bergoyang-goyang hampir 1 menit, tidak lama kemudian teriakan-teriakan histeris dan bunyi barang jatuh terus bersahut-sahutan, "erangan-erangan" kesakitan turut membuat pilu suasana.
Sekali lagi, Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang menunjukkan kekuasaanNya kepada umat manusia serta memberinya cobaan. Ribuan rumah di Bantul rata dengan tanah, ribuan jiwa meninggal dunia menghadap Illahi akibat terkena reruntuhan bangunan. Bagi mereka yang meninggal dunia, mereka telah dipilih Allah untuk menjadi syuhada, sebab mereka meninggal akibat musibah yang terjadi. Jika dalam hadis disebutkan bahwa mereka yang meninggal akibat sakit perut, akibat tenggelam dapat menjadi syahid, maka dapat kita qiyaskan juga mereka yang meninggal akibat terkena runtuhan bangunan, akibat bencana ini juga merupakan syuhada sebab mereka terkena musibah dan bencana alam.
Dari isu yang beredar di masyarakat, gempa itu adalah akibat dari ledakan Bom Nuklir. Isu tersebut sebenarnya adalah kabar bohong belaka. Berikut ini adalah analisa seorang pakar nuklir yang mengatakan bahwa gempa Jogja mustahil akibat ledakan Bom Nuklir:
Dari eksperimen ujicoba detonasi nuklir permukaan tanah di medan percobaan Gurun Nevada dan atol Bikini, diketahui bahwa range fraksi energi ledakan yang diubah menjadi energi gempa berkisar antara 0,1 % hingga 0,001 %. Jika diambil nilai tengahnya (0,001 %) dan digabungkan dengan persamaan yang dikembangkan Charles F. Richter dan Beno Gutenberg, didapatkan hubungan antara energi ledakan (W, dalam kiloton) dengan Magnitude gempa (M, dalam hal ini body-wave magnitude/Mb dengan satuan skala Richter) sebagai berikut : log W = 1,5 Mb - 3,82
Untuk gempa Yogya, dengan Mb = 5,9 skala Richter dibutuhkan ledakan nuklir hipotetik - yang kita sebut saja sebagai "ledakan Parangtritis" - berenergi 107.000 kiloton atau 107 megaton. Sebagai pembanding, letusan bom Hiroshima 'hanya' melepaskan energi 20 kiloton saja atau 5.300 kali lebih lemah. Titik ledak (ground zero) "ledakan Parangtritis" juga harus berada di media yang padat, sehingga satu-satunya kemungkinan hanyalah di dasar laut. Namun akan kita lihat dalam bahasan selanjutnya, jika titik ledak ditempatkan di dasar laut akan muncul bentukan awan cendawan raksasa dan gelombang pasang (tsunami)
Dalam sejarah eksperimen ujicoba senjata nuklir ledakan terdahsyat yang bisa dicapai adalah sebesar 50 megaton, ketika militer Uni Soviet meledakkan Tsar Bomba (King of the bombs) hasil racikan Andrei Sakharov dan kawan-kawan di atas pulau Novaya Zemlya di ketinggian 4.000 meter pada 30 Oktober 1961 (Sublette, 1998). Meski secara teoritis bisa saja dirancang senjata nuklir berenergi 100 - 150 megaton menurut metode Sloika/Alarm Clock-nya Sakharov maupun Staged Radiation Implosion-nya Edward Teller & Stanislav Ulam (AS), secara teknis sangat sulit untuk mencapai tingkatan energi tersebut mengingat efisiensi reaksi fissi dan fusi cukup rendah. Sebagai gambaran, bom Hiroshima memiliki efisiensi fissi 'hanya' 1,4 %, sementara Bom Nagasaki sedikit lebih tinggi (17 %).
Maka sangat sulit menyebut "ledakan Parangtritis" berasal dari ledakan nuklir tunggal. Dan bila dianggap berasal dari ledakan nuklir ganda (multiple), muncul kesulitan teknis lain berupa penanganan sekian banyak hululedak agar bisa terdetonasi secara simultan, mengingat prosedur peledakan senjata nuklir amatlah rumit. Ambil contoh, jika "ledakan Parangtritis" berasal dari hululedak B83 atau B83-1 Bomb (hululedak terdahsyat dalam inventori US Air Force, lihat Sublette 1998) yang energi maksimumnya 1,2 megaton, maka dibutuhkan sedikitnya 89 hululedak nuklir sejenis dan tak terbayangkan kesulitan yang muncul dalam menangani hululedak sebanyak ini secara bersama-sama. Apalagi bila digunakan hululedak lain yang energinya lebih kecil.
Dari uraian di atas, sangat sulit untuk mengatakan kemunculan awan aneh di Parangtritis yang menyertai gempa 27 Mei 2006 kemarin sebagai akibat dari ledakan Nuklir maupun tumbukan Meteor.
Diambil dari : http://rovicky.wordpress.com/2006/09/05/gempa-yogya-ledakan- nuklir-dan-tumbukan-meteor-sebuah-pengandaian/
(more)
(less)
Added: 1 year ago
Views: 16,777
BAU amis darah menyesakkan dada tercium di ruang unit gawat darurat (UGD) RS Sardjito, Yog
BAU amis darah menyesakkan dada tercium di ruang unit gawat darurat (UGD) RS Sardjito, Yogyakarta. Bahkan bau dan ceceran darah di mana-mana itu memenuhi lorong-lorong ruangan dan berbagai ruangan di rumah sakit itu yang disulap jadi tempat penampungan korban gempa tektonik yang melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah, Sabtu (27 Mei 2006). Di lahan parkir RS Sardjito juga terlihat ceceran darah dan bergelantungan botol cairĀan infus. Sejumlah korban yang tidak tertampung dalam ruangan terpaksa berada di halaman RS tersebut. Sebagian korban mengerang dan menangis menahan sakit dan pilu. Sedangkan dokter dan paramedis tidak memiliki waktu senggang untuk sejenak saja menghirup udara segar, karena para korban gempa datang secara bergelombang dengan luka patah kaki, robek kulit dan daging, bocor bagian kepala, lebam dan memar di beberapa bagian tubuh. Akibat membeludaknya korban gempa yang butuh penanganan segera, operasi kecil atau melakukan tindakan menjahit bagian luka di kepala dan badan, terpaksa dilakukan di lorong, di halaman parkir, baik sambil jongkok atau berdiri. Tindakan higienis, sudah menjadi urutan lain, yang pasti korban harus segera diselamatkan. Seperti yang dialami bocah dari Plered, Kab. Bantul. Tangisannya sudah tidak lagi mengeluarkan air mata, namun jelas erangan dan tangisan selalu menyertai ketika seorang tenaga medis menjahit luka menganga di kaki kirinya. Sementara sang ibu cuma bisa menangis sambil mendekap anaknya, dan ayahnya mengipasi tubuh putranya itu.
Sebagian besar dari mereka masih tidak percaya suara gemuruh di pagi hari itu, adalah gempa tektonik yang membuat mereka terluka. Konsentrasi mereka masih tertuju ke aktivitas Gunung Merapi yang mengeluarkan awan panas besar dua kali pada saat gempa terjadi.
Raungan sirene ambulans, gemuruhnya suara baling-baling helikopter, termasuk hilir mudiknya mobil-mobil umum yang membawa korban gempa, seolah berpacu dengan suara erangan para korban gempa yang didominasi kaum tua renta dan anak-anak. Mereka bergeletakan di sepanjang lahan parkir RS Sardjito sampai ke lorong-lorong. Sebagian warga lainnya, memenuhi ruang jenazah yang sampai pukul 15.30 di RS Sardjito tercatat 79 korban gempa meninggal, 14 di antaranya belum dikenal identitasnya.
Pemandangan yang sama juga terlihat di sejumlah rumah sakit di Yogyakarta seperti RS PKU Muhammadiyah, RS Panti Rapih, RS Bethesda, RSI Hidayatulah, RSUD Wirosaban, dan banyak rumah sakit kecil lainnya. Korban gempa membeludak sampai di Bantul. Mereka berderet di trotoar dekat RSUD Bantul, trotoar depan RS PKU Muhammadiyah Bantul, beralaskan tikar seraya menunggu perawatan. Banyak bantuan tenaga medis, seperti dari Dinkes Jabar yang mengirim para dokter dan paramedis senior dan dari RS St. Borromeus dan RS Santo Yusup untuk membantu tenaga medis di RS Bethesda.
Yang memprihatinkan, suasana di RSUD Senopati Bantul. Kondisi tenaga medis sangat terbatas, persediaan obatan-obatan habis, sementara korban gempa terus berdatangan. Namun yang membuat mereka merasa sedih adalah, korban gempa terpaksa tergeletak tanpa naungan tenda-tenda dan bantuan logistik. Akibatnya, selain kepanasan dan terpapar debu, mereka juga kelaparan dan kehausan. Lebih jauh lagi, rintihan para korban gempa menambah suasana kian mencekam menjelang sore, tanpa penerangan, logistik dan tenda.
Pada tahun 1867 di Yogyakarta pernah terjadi gempa bumi yang merobohkan 372 rumah, 5 orang meninggal dunia. Pada Tahun 1943 terjadi lagi, 2800 rumah hancur, 213 orang meninggal, 2096 orang luka. Tahun 1981 gempa di Yogyakarta mengakibatkan dinding Hotel Ambarukmo retak-retak.
(more)
(less)
Added: 1 year ago
Views: 5,593
Gempa dengan kekuatan 5,9 SR yang cukup dahyat di Yogyakarta memunculkan isu tsunami. Hing
Gempa dengan kekuatan 5,9 SR yang cukup dahyat di Yogyakarta memunculkan isu tsunami. Hingga pukul 08.00 WIB Sabtu 27 Mei 2006, ribuan warga provinsi dari Daerah Istimewa Yogyakarta di bagian selatan, termasuk Bantul, berlarian dan menyelamatkan diri ke arah utara.
Pemantauan www.detik.com pukul 08.00 WIB, Sabtu (27/5/2006), arus pengungsian ribuan warga Yogya bagian selatan ini masih terus terjadi. Mereka menggunakan mobil-mobil pribadi, truk, angkutan umum, sepeda motor, maupun berjalan kaki.
Salah seorang warga Bantul mengaku dirinya ikut menyelamatkan diri, karena kabarnya air laut mulai pasang. "Banyak warga bilang air laut sudah mulai naik dan menuju Bantul," kata Ahmad, salah seorang warga yang membawa serta istri dan anaknya itu.
Situasi arus lalu lintas dari arah Bantul menuju arah utara tampak luar biasa padat. Belum diketahui secara pasti, apakah benar ada tsunami atau tidak. Sebagian besar hubungan telekomunikasi di provinsi DIY putus.
(more)
(less)
Added: 1 year ago
Views: 4,545
|
Gempa yang terjadi pada hari sabtu 27 Mei 2006 jam 5.54 WIB pagi tersebut telah mengakibat
Gempa yang terjadi pada hari sabtu 27 Mei 2006 jam 5.54 WIB pagi tersebut telah mengakibatkan lebih dari tigapuluh ribu orang mengalami luka-luka, 5.782 orang meninggal dan ratusan ribu rumah penduduk rusak. Gempa berkekuatan 5,9 SR tersebut juga mengakibatkan ribuan sekolah dan fasilitas umum lainnya rusak. Belum lepas dari ingatan dan belum selesai ancaman bencana gunung Merapi meletus, tiba-tiba bencana yang lebih dasyat, gempa bumi, meluluh lantakkan Yogyakarta. Bukan hanya warga DIY dan sebagian Jateng saja yang menangis, tetapi Indonesia juga menangis.
Menurut data yang dikeluarkan oleh Media Center Satkorlak melalui situs Jogja Media Center, daerah yang paling parah tertimpa bencana adalah Kabupaten Bantul-DIY dan Kabupaten Klaten-Jawa Tengah. Kabupaten Bantul paling banyak jumlah korban manusia, baik yang meninggal maupun luka-luka. Jumlah korban yang meninggal di Kabupaten Bantul tercatat 4.788 orang sampai saat itu. Sedang Kabupaten Klaten merupakan daerah terparah kedua, dengan jumlah korban meninggal mencapai 994 orang. Di Kabupaten Bantul, jumlah rumah yang rata dengan tanah tercatat 28.939 buah, yang rusak berat berjumlah 40.038 buah dan rusak ringan berjumlah 30.906 buah. Sedang di Kabupaten Klaten jumlah rumah roboh tercatat 36.210 buah, yang rusak berat berjumlah 59.062 buah dan rusak ringan berjumlah 83.933 buah.
Gempa bumi di pagi itu juga mengakibatkan aktifitas jajaran Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan XIV Yogyakarta terganggu. Gedung Keuangan Negara (GKN) Yogyakarta tempat beraktifitas instansi vertikal Departemen Keuangan, turut menjadi korban kedasyatan gempa tersebut. Sebagian besar atap gedung hancur. Sebagian tembok juga mengalami retak-retak dan patah. Untuk itu, demi keamanan para pegawai dan pelayanan kepada masyarakat, Kanwil XIV Ditjen Perbendaharaan Yogyakarta untuk sementara akan segera dipindahkan. Direncanakan Kanwil XIV Ditjen Perbendaharaan Yogyakarta Yogyakarta sudah pindah ke eks. Gedung Departemen Transmigrasi di jalan Sudirman Yogyakarta. Sambil menunggu proses kepindahannya, maka aktifitas para pegawai dipusatkan di mess/rumah dinas pejabat Ditjen Perbendaharaan Yogyakarta. Kanwil XIV Ditjen Perbendaharaan Yogyakarta membawahi tiga Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN), yaitu KPPN Yogyakarta, KPPN Wonosari, dan KPPN Wates. Dari ketiga KPPN tersebut, hanya KPPN Yogyakarta yang mengalami kerusakan parah akibat gempa. KPPN Wonosari dan KPPN Wates tidak mengalami kerusakan yang berarti, sehingga masih bisa digunakan untuk aktifitas pelayanan kepada masyarakat.
(more)
(less)
Added: 1 year ago
Views: 3,241
Gempa Tektonik berkekuatan 5,9 skala Ritcher yang mengguncang Jogjakarta dan sekitarnya Sa
Gempa Tektonik berkekuatan 5,9 skala Ritcher yang mengguncang Jogjakarta dan sekitarnya Sabtu (27/5/2006) telah menggugah rasa kemanusiaan kita. Bencana itu telah merenggut ribuan nyawa, sementara ribuan lainnya masih terus menjalani perawatan akibat luka-luka yang dialami. Bencana itu juga telah meluluhlantakkan ribuan rumah dan infrastruktur yang ada. Mereka yang telah kehilangan orang-orang yang mereka cintai itu saat ini terpaksa harus menginap di tenda-tenda pengungsian, menginap di halaman rumah sakit bahkan tidak sedikit yang masih tidur beratapkan langit. Bantuan yang ditunggu-tunggu pun sering tersendat, akibat buruknya koordinasi antar sektor.
Dalam penanganan korban gempa 27 Mei 2006 Palang Merah Indonesia [PMI] Cabang Bantul telah mempertemukan sebanyak 95 kasus keluarga yang terpisah dari 107 kasus, menyelesaikan 13 kasus jenazah tanpa identitas dari 16 jenasah serta melakukan pemakan massal.
Gempa berkekuatan 5,9 SR yang mengguncang Jogja dan Jateng 27 Mei 2006 menyisakan isak tangis dan haru biru bagi warga Jogja dan Jateng. Rumah, toko, kendaraan, dan hewan ternak semua habis tak tersisa. Sebagian pula harus rela kehilangan kekasih dan sanak keluarganya untuk selama-lamanya. Sungguh guncangan hebat yang terjadi pada pagi buta itu menjadi cerita duka bagi warga Jogja dan Jateng. Hanya orang-orang yang bermental bajalah yang tetap tabah menjalani semua cobaan yang diberikan Yang Kuasa ini.
(more)
(less)
Added: 1 year ago
Views: 2,389
Hati kita tertunduk penuh duka atas terjadinya bencana alam gempa bumi di Yogyakarta dan k
Hati kita tertunduk penuh duka atas terjadinya bencana alam gempa bumi di Yogyakarta dan kawasan Jawa Tengah sekitarnya Sabtu pagi 27 Mei 2006.
Belasungkawa sedalam-dalamnya dan doa kita tujukan kepada korban yang meninggal akibat bencana tersebut. Harapan kita, kepada saudara-saudara kita ini, demikian pula kepada mereka yang luka-luka dan yang harus mengungsi, dapat kita berikan pertolongan dan bantuan sebaik-baiknya.
Alam memperlihatkan Kuasa Tuhan yang amat menggetarkan, menyentak sebagian besar warga Yogyakarta dan sekitarnya, yang selama beberapa bulan terakhir memusatkan perhatian pada Gunung Merapi yang sedang aktif luar biasa. Siapa menduga bahwa jauh di dalam kulit Bumi sana juga ada aktivitas lain yang lebih subtil untuk ditangkap indera manusia. Di lepas pantai Yogyakarta di Samudra Hindia, lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia bertumbukan dengan dahsyatnya, melepaskan energi yang menyebar dengan kekuatan tak tertahankan untuk ukuran manusia.
Penjelasan di atas kiranya melegakan kita yang tergerak untuk mengaitkan gempa kemarin dengan kemarahan Ratu Laut Selatan (Nyi Roro Kidul) atau sinyal gaib Kemurkaan Tuhan pada bangsa ini. Sekali lagi Allah SWT menunjukkan kekuasaan-Nya dan memberi cobaan serta peringatan kepada kita semua. Ribuan rumah rata dengan tanah, ribuan jiwa meninggal dunia menghadap Illahi akibat terkena reruntuhan bangunan. Bagi mereka yang meninggal dunia, mereka telah dipilih Allah SWT untuk menjadi syuhada.
Kita menerima realitas, Yogyakarta dan sebagian besar wilayah Tanah Air kita lainnya memang rawan terkena bencana alam, baik yang disebabkan oleh aktivitas tektonik maupun gunung berapi. Sebutan negeri zamrud di khatulistiwa beserta keelokan dan kekayaan alamnya seiring dengan sebutan lain yang menggetarkan, seperti pusat ring of fire dan area pertemuan lempeng-lempeng tektonik dunia yang amat aktif. Tak pelak lagi, letusan gunung api dan gempa seumur-umur akan menjadi bagian urusan kita. Namun, justru oleh realitas alam itu, kita diamanatkan untuk menjadi bangsa yang cerdas dan waspada. Alam Indonesia mengamanatkan agar kita punya program mitigasi bencana yang aktif, canggih, dan kapabel.
Pada sisi lain, setiap kali terjadi musibah bencana alam, kita menyaksikan umat manusia dipersatukan tanpa memandang batas negara dan perbedaan-perbedaan. Solidaritas antarmanusia selalu terbangun manakala ada sesama dirundung bencana. Seperti halnya di Aceh, di Nias, dan di wilayah wilayah lain. Pada musibah Yogyakarta ini kita melihat uluran bantuan segera datang dari berbagai pihak, di dalam dan di luar negeri. Semoga semangat kemanusiaan senantiasa juga hidup mewarnai pergaulan manusia pasca bencana.
Di pihak lain, saudara-saudara kita yang sedang berjuang mempertahankan hidup di rumah sakit, para korban luka yang membutuhkan darah, mereka yang kehilangan rumah tinggal, kehilangan kekasih; di Bantul, di Klaten, dan tempat-tempat lain, pastilah sekarang ini sedang menunggu datangnya bantuan. Mari kita sampaikan segera bantuan dan pertolongan kita bagi mereka, dan yakinkan bahwa mereka tidak sendiri di saat menderita sekarang ini. Semoga amal kita diterima oleh Allah SWT dan mendapat balasan yang lebih baik. Amiin
(more)
(less)
Added: 1 year ago
Views: 34,845
|
Ada dua kalimat yang setiap saat saya dengar selama dua hari berada di Bantul itu, setelah
Ada dua kalimat yang setiap saat saya dengar selama dua hari berada di Bantul itu, setelah mengucapkan, "Maturnuwun sanget (terima kasih sekali), " mereka meneruskannya dengan, "Saking pundi tho jenengan ..?" "Jenengan niku sinten ..?" Artinya kurang lebih adalah "Anda itu siapa, dan berasal darimana?" Pertanyaan yang tak perlu repot-repot dijawab, karena seulas senyum jauh lebih berarti dari ribuan kata-kata tak bermakna yang belakangan ini banyak diumbar di kota kecil itu. Diantara yang bertanya, ada seraut wajah yang tidak hilang seiring waktu berjalan, dialah mbah Djiyem, sudah renta sekali. "Sampun mboten kemutan (enggak ingat)", katanya ketika ditanya berapa usianya? Ketika bertemu sosok ini di kala senja di sebuah dusun terpencil di wilayah Jetis, hujan deras mengguyur menyedihkan hati, kain kebayanya basah dan kumal, ia duduk sendirian diantara puing-puing rumahnya, hanya mengenakan penutup kepala tas kresek warna hitam, perutnya melilit minta diisi, sudah dua hari ia tak bertemu makanan. Di sebelahnya ada beberapa butir kelapa muda yang diberikan tetangganya, sebagian sudah dibelah, tiga lagi masih utuh, itulah yang membantunya bertahan hidup, padahal letak desanya tidak jauh dari pusat bantuan logistik yang bertumpuk luarbiasa banyaknya di sekitar kantor Bupati dan lapangan Trirenggo, tempat penampungan para pengungsi. Ia bertahan tak mau mengungsi, memilih menunggui anak cucunya yang diyakininya masih "tidur" di dalam "rumah" yang sudah menjadi puing. "Nenggani putu kulo, tasih tilem wonten ngandap", katanya sembari berulang-ulang menyapu matanya dengan ujung kebayanya yang kuyup. Antara tetesan air mata dan dan air hujan sudah tak bisa dibedakan lagi. Bagi seorang nenek, cinta kepada cucu kadangkala melebihi cinta terhadap apapun di dunia ini. Untuk cinta semacam itulah ia rela diam, tak bergeming dalam gelap, kehujanan dan kepanasan, tanpa makanan. Bila fisiknya masih perkasa, siang malam ia pasti menyibak tumpukan batu bata dan kayu, yang menghalangi kerinduannya memeluk sang cucu.
Alam memperlihatkan Kuasa Tuhan yang amat menggetarkan, menyentak sebagian besar warga Yogyakarta, Jawa Tengah dan sekitarnya; yang selama beberapa bulan terakhir memusatkan perhatian pada Gunung Merapi yang sedang aktif luar biasa. Siapa menduga bahwa jauh di dalam kulit Bumi sana juga ada aktivitas lain yang lebih subtil untuk ditangkap indera manusia. Di lepas pantai Yogyakarta di Samudra Hindia, lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia bertumbukan dengan dahsyatnya, melepaskan energi yang menyebar dengan kekuatan tak tertahankan untuk ukuran manusia.
Gempa berkekuatan 5,9 SR yang mengguncang Jogja dan Jateng 27 Mei 2006 menyisakan isak tangis dan haru biru bagi warga Jogja dan Jateng. Rumah, toko, kendaraan, dan hewan ternak semua habis tak tersisa. Sebagian pula harus rela kehilangan kekasih dan sanak keluarganya untuk selama-lamanya. Sungguh guncangan hebat yang terjadi pada pagi buta itu menjadi cerita duka bagi warga Jogja dan Jateng. Hanya orang-orang yang bermental bajalah yang tetap tabah menjalani semua cobaan yang diberikan Yang Kuasa ini.
Sesungguhnya, kemuliaan kita di dunia lain ditentukan oleh keberanian dan kerelaan kita untuk berpisah dengan apa yang kita cintai di dunia ini. Memang banyak peristiwa yang tidak bisa kita duga sebelumnya. Kehilangan dengan apa yang kita cintai di dunia ini,... mudah-mudahan menyadarkan kita tentang apa yang sesungguhnya harus lebih kita cintai. Berpisah adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Jangan terjebak kebodohan dengan terus menerus mengingat manis dan pahitnya masa lalu. Kebencian manusia kepada perpisaan dengan apa yang dicintainya di dunia ini hanya akan mengantarkan kebencian manusia tersebut kepada Tuhannya. Hanya Allah SWT yang seharusnya lebih kita cintai. Mudah-2an kerelaan perpisahan dengan selain DIA akan mengantarkan kita kepada dunia lain yang lebih baik yang DIA janjikan.
(more)
(less)
Added: 1 year ago
Views: 17,942
Jika anda berkunjung ke wilayah Bantul dan sekitarnya pada minggu ke-3 pasca Gempa, barang
Jika anda berkunjung ke wilayah Bantul dan sekitarnya pada minggu ke-3 pasca Gempa, barangkali akan timbul sedikit rasa lega, senang dan bangga. Bagaimana tidak, warga yang dilanda bencana gempa bumi hebat pada Sabtu pagi (27/5/2006) ini tampak mulai bangkit. Pasar-pasar mulai ramai, puing-puing mulai dibersihkan, dan sawah-sawah pun kembali disiangi.
Bagi sebagian masyarakat luar Bantul, banyaknya spanduk yang berisi ajakan untuk tidak terus-terusan bersedih dan meratap mungkin dianggap sebagai salah satu sumbu penyulut semangat masyarakat. Memang ada yang merasa mendapat dukungan dari tulisan-tulisan di spanduk itu, seperti Clara dan keluarga yang berdomisili di wilayah Kasongan. Namun bagi sebagian warga setempat yang lain, apalagi mereka yang tidak begitu memperhatikan tulisan tersebut mengaku bahwa mereka bangkit karena memang ingin bangkit. Mereka tidak mau terus bersedih dan melamun melihat puing-puing rumah mereka. "Kalau dirumah terus malah ngenes, Mbak, melihat rumah yang dibangun dengan susah payah sekarang hancur seperti itu." Itulah sedikit ungkapan dari Ningsih, seorang ibu yang mulai bangkit dan turun ke sawah tetangga dengan upah Rp 17.500,- per hari. Sambil menyiangi padi yang ditumbuhi banyak rumput liar, ia bercerita bagaimana perasaannya yang sampai saat ini masih ketakutan bila ada sedikit getaran saja. Namun, seperti semangatnya menyiangi padi untuk menyambung hidupnya, ia pun menerima peristiwa ini sebagai sebuah cobaan. "Kathah rencange kok, malah kathah ingkang luwih parah," imbuhnya. Banyak temannya kok, malah banyak yang lebih parah.
Hal serupa juga dilakukan oleh Sihono. Setelah dua minggu bergotong royong, bergantian membenahi rumah bersama dengan bapak-bapak yang lain dilingkungannya, ia pun terjun ke sawahnya. Ia mulai mengalirkan air ke lahan padinya yang belum sempat disiangi karena peristiwa gempa.
Jika Ningsih dan Sihono mulai bangkit dengan kembali beraktifitas di sawah yang mereka akui memberi sedikit hiburan, Wakidah (60-an) mulai berjualan untuk menghilangkan kesedihannya. Ia menggelar dagangannya yang berupa pecel dan dawet di pinggir jalan Sembungan, Sendang Semanggi, Bangunjiwo, Kasihan - Bantul. "Biasanya nggak jualan di sini, tapi di dalam sana, dan jualannya juga macam-macam, ada lotek dan lauk pauk yang lain. Tapi karena kondisi seperti ini, semua rumah roboh, ya disini saja dan mulai dari nol lagi," ceritanya sambil kadang matanya berkaca-kaca bila menyinggung peristiwa Sabtu pagi 27 Mei 2006.
(more)
(less)
Added: 1 year ago
Views: 2,555
Pemerintah Jepang sangat terkesan dengan masyarakat Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogaya
Pemerintah Jepang sangat terkesan dengan masyarakat Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogayakarta (DIY) yang dinilai sangat cepat dalam membangun kembali semangat hidup mereka pasca-gempa 27 Mei 2006.
Oleh karena alasan itu, pihak Negeri Sakura antusiasme mengundang Bupati Bantul, HM Idham Samawi, dan Sekretaris Daerah (Sesda)-nya, Gendut Sudarto, untuk menjadi pembicara dalam satu workshop internasional di dua kota sekaligus, Tokyo dan Kobe.
Hal itu menjadi sebuah kejutan yang membuatnya bangga pada lebih dari 800.000 masyarakat "Projotamansari, Sejahtera, Demokratis dan Agamis" itu.
Gempa bumi hebat yang menghancurkan berbagai sendi kehidupan Jogja telah berlalu. Masyarakat, terutama yang menjadi korban mulai bangkit kembali. Mereka mulai berbenah, baik secara individu maupun bergotong royong membersihkan reruntuhan bekas bangunan rumah yang diamuk goncangan berkekuatan 5,9 SR tersebut. Sebagian dari mereka bahkan telah kembali melakukan aktivitas sehari-hari seperti sebelum bencana terjadi. Warga Jogja tampaknya tak ingin berlama-lama meratapi bencana yang merupakan cobaan dari Sang Khalik ini.
(more)
(less)
Added: 1 year ago
Views: 2,567
|
|
See All 54 Videos
|